Di Aceh Besar, Mahasiswi Kebidanan Poltekkes dampingi 327 Ibu Hamil dan 20 Ibu Baduta

Kategori : Berita Sabtu, 03 Juni 2017

"Sebanyak 327 Ibu hamil dan 20 Ibu Baduta akan mendapatkan pendampingan kehamilan dalam wilayah kerja Puskesmas Darul Imarah dan Puskesmas Blang Bintang. Kegiatan pendampingan ini dilakukan oleh Mahasiwi jurusan Kebidanan Poltekkes Aceh". Hal tersebut disampaikan oleh Erlindawati, SKM, MPH yang saat ini menjabat Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi, Dinas Kesehatan Aceh di sela-sela acara pelepasan 45 orang mahasiswa jurusan kebidanan ke desa di wilayah kerja Puskesmas Darul Imarah dan Blang Bintang, Aceh Besar (Sabtu, 03/06/2017).

 "Setiap mahasiswi mendampingi 1 orang ibu hamil atau ibu baduta dengan melakukan kunjungan ke rumah ibu hamil atau baduta 2 minggu sekali, pembimbingnya adalah bidan di desa dan dosen pembimbing praktek", tambahnya.

Kader desa di wilayah kerja Puskesmas Darul Imarah dan Blang Bintang yang telah direkrut dan dibekali untuk pendampingan ibu hamil dan ibu baduta hari ini juga serentak mengunjungi ibu hamil binaan, dan setiap kader desa medampingi 3 - 4 ibu hamil.

Acara pelepasan tersebut ikut dihadiri oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Aceh, Yusrizal, SKM, M. Kes, Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi (Erlindawati, SKM, MPHM) serta pengelola KIA Dinas Kesehatan Aceh, penanggung jawab KIA Dinkes Kab. Aceh Besar.  Dari Poltekkes, ikut hadir ketua Jurusan Kebidanan, Nurlaily, S.ST, M. Kes,  dan ketua Prodi kebidanan turut hadir saat pelepasan mahasiswa dan memberikan arahan kepada mahasiswa yang ikut pendampingan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Aceh, Yusrizal, SKM, M. Kes, menyebutkan bahwa kegiatan pendampingan ibu hamil dan ibu baduta merupakan kerjasama Dinas Kesehatan Aceh, Dinas Kesehatan Kab. Aceh Besar dan Poltekkes Kemenkes RI untuk pendampingan ibu hamil dan ibu dengan anak di Bawah Dua Tahun (Baduta).Pendampingan ini dilakukan oleh kader desa dan mahasiswa Poltekkes jurusan kebidanan Kemenkes RI untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil, suami dan keluarganya tentang kehamilan berisiko, bahaya kehamilan dan persalinan, dan perencanaan persalinan yang aman dengan menggunakan Buku KIA, serta mendeteksi kasus risiko tinggi dan mencegah terjadinya komplikasi yang menyebabkan kematian ibu dan bayi.

Angka kematian ibu di Aceh masih cukup tinggi yaitu sebesar 169/100.000 kelahiran hidup  pada tahun 2016, meningkat dibanding tahun 2015 yakni sebesar 135/100.000 Kelahiran Hidup dimana penyebab utama kematian adalah perdarahan (32%), hipertensi dalam kehamilan (20%), infeksi (11%), gangguan system peredaran darah (3%), gangguan metabolik (2%), dan penyebab lainnya (31%). Terdapat 1110 kasus kematian bayi dengan penyebab terbanyak adalah asfiksia (32%), Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 28%, kelainan bawaan (8,5%), sepsis (3%) dan tetanus neonatorum (1%).

Masalah gizi pada balita di Aceh juga masih tinggi, berdasarkan pemantauan status gizi tahun 2016 dijumpai prevalensi pendek dan sangat pendek (stunting) pada balita di Aceh sebesar 26,4% dan prevalensi balita gizi kurang dan buruk yaitu16,1%. Stunting merupakan kondisi dimana tinggi badan anak lebih pendek dari yang seharusnya bisa dicapai pada umur tertentu yang diakibatkan karena kekurangan asupan gizi yang berkepanjangan, tidak hanya berdampak pada keadaan fisik saja tetapi juga menurunnya kecerdasan anak.

Masa kritis perkembangan anak adalah pada 1000 hari pertama kehidupan, dimulai pada masa kehamilan sampai dengan usia 2 tahun atau disebut “golden periode” yaitu masa dimana terjadi pembentukan sel-sel tubuh seperti otak dan sel penting lainnya yang mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas tumbuh kembang anak. Asupan gizi yang cukup pada masa ini sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas fisik, mental, emosional, sosial, kemampuan belajar dan perilaku sepanjang hidup anak. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kekurangan gizi pada masa-masa emas akan menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan dan tidak bisa dikejar pada periode berikutnya.

"Nah, pada masa 1000 hari pertama ini, yang merupakan periode emas ini sangat penting untuk dilakukan pendampingan sehingga nantinya dapat meningkatkan persentase kunjungan ibu hamil, pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil, persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan, kunjungan neonatal, kunjungan nifas, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Eksklusif, penimbangan balita dan terpantaunya tumbuh kembang balita, terdeteksinya ibu hamil risiko tinggi sehingga penanganannya tepat waktu, Menurunnya kasus stunting, wasting dan gizi kurang pada balita,  dan pada akhirnya dapat menurunnya angka kesakitan dan kematian ibu, bayi dan balita di Aceh", harap Yusrizal itu.

 

 

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32