Kiat Sukses Pemberian ASI Ekslusif Bagi Ibu Pekerja

Flyer Permberian ASI Ekslusif
Flyer Permberian ASI Ekslusif

(BANDA ACEH) -- Seorang wanita karier yang sedang memiliki anak bukan berarti harus memilih antara pekerjaan atau mengurus bayi. Pada dasarnya kedua hal ini dapat diseimbangkan. Dia masih bisa memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif dan pekerjaan di kantor tetap berjalan. 

Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya nutrisi yang tepat untuk bayi karena mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusui dimulai segera setelah bayi lahir kemudian diberikan secara eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih. Pemberian ASI eksklusif juga merupakan salah satu cara dalam pencegahan stunting di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Menurut WHO, kurang dari separuh bayi di bawah umur enam bulan di dunia yang mendapatkan ASI eksklusif. Di Indonesia, cakupan ASI eksklusif juga stagnan dalam dua tahun terakhir. Dari data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), inisiasi menyusui dini sebanyak 47,4 persen pada tahun 2021 dan 58,1 persen pada 2022. Sementara itu, data ASI eksklusif usia 0-5 bulan di tahun 2021 sebesar 52,1 persen dan pada 2022 sebanyak 52,2 persen.

Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif akan lebih mungkin mengalami kekurangan gizi dan vitamin A. Bayi juga berisiko menderita alergi dan intoleransi laktosa. Selain itu, ada peningkatan risiko beberapa penyakit kronis, seperti diabetes dan obesitas.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja, tanpa ada tambahan makanan dan minuman lain, kecuali obatobatan dalam bentuk sirup dalam kasus tertentu, dan diberikan saat bayi berumur 0 hingga 6 bulan. Bayi juga tidak perlu diberikan ar putih atau makanan lamnya selama periode enam bulan pertama usianya karena kebutuhan grzi bayi sudah tercukupi dengan ASI.

Anak-anak yang disusui mengalami lebih sedikit infeksi pada masa kanakkanak dan penyakit kronis, peningkatan IO, potensi penghasilan lebih tinggi, dan lebih banyak peluang untuk mempnontaskan pendidikan. Menyusui juga melindungi ibu dan kanker payudara dan ovarium serta penyakit jantung serta dapat menghemat keuangan keluarga juga.

Sering terjadi penurunan pemberian ASI eksklusif ketika bayi mulai berusia tiga bulan. Penyebabnya, antara lain, karena ibu kembali bekerja setelah cuti melahurkan serta fasilitas dan waktu memerah ASI yang kurang memadai. Dalam Podcast Kementerian Kesehatan Episode 28 bertema “Kiat Sukses Menyusui untuk Ibu Bekerja", dr. Lovely Daisy, M.K.M., Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan, memberikan kunci sukses agar ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI.

Berikut Kiat Sukses Menyusui untuk Ibu Bekerja :

  1. Tekad harus kuat, Ibu harus memiliki tekad yang kuat untuk memberikan asupan terbaik untuk bayinya.
  2. Dukungan keluarga, Mulai dari suami, nenek, hingga anggota keluarga lain harus mendukung agar ibu lebih bersemangat lagi dalam memberikan ASI walaupun sedang sibuk bekerja.
  3. Tempat kerja, Sebisa mungkin tempat kerja memfasilitasi para ibu untuk memerah ASI, baik ruang maupun kesempatan, sehingga ASI tetap bisa diberikan untuk anaknya. Kalau tidak ada tempat dan kesempatan untuk memerah, tentu hal itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya.
  4. Latihan, Sebelum selesai cuti melahirkan selama tiga bulan, ibu dapat berlatih terlebih dahulu untuk memerah ASI dan juga melatih bayi untuk bisa mengonsumsi ASI melalui botol susu sehingga nanti setelah ibu sudah harus masuk kerja, bayi tetap mendapatkan ASI.
  5. Penyimpanan, Jika ibu sedang di kantor, ASI untuk sementara dapat disimpan di kulkas setelah diperah. Pada saat ibu pulang, ASI bisa disimpan di kotak pendingin agar suhunya tetap terjaga.

REKOMENDASI WHO DALAM PEMBERIAN ASI EKSLUSIF

UNICEF dan WHO menyerukan pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk mengambil tindakan khusus yang mendukung semua ibu menyusui.

1. Menerapkan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui di semua fasilitas bersalin. Panduan mi termasuk memberi tahu ibu tentang manfaat menyusui, melatih tenaga kesehatan untuk membantu wanita menyusui dan memastikan ibu dan bayi tetap bersama selama 24 jam sehari selama di rumah sakit.

2. Memperkuat hubungan antara fasilitas kesehatan dan masyarakat untuk memastikan ibu memiliki akses ke konseling menyusui yang terampil.

3. Memperkuat, menegakkan, dan memantau langkah-langkah hukum untuk mengatur pemasaran susu formula bayi dan pengganti ASI lainnya.

👁 3272 kali

Berita Terkait