Pemerintah Aceh Gencarkan Imunisasi Untuk Cegah Berbagai Penyakit

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman, Sp.KKLP
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman, Sp.KKLP

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh akan menggencarkan imunisasi untuk mencegah muncul dan menyebarnya berbagai penyakit menular. Penyakit-penyakit tersebut, yakni polio, diare, dan kanker servik. Imunisasi tersebut akan menyasar anak-anak pada berbagai kategori umur.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, Sp. KKLP menegaskan, vaksinasi anak-anak dilakukan secara gratis oleh pemerintah di seluruh Indonesia, termasuk Aceh.

“Kita mencoba menggerakkan masyarakat melalui Gerakan Ba Aneuk Imunisasi atau Gebai. Mari sama-sama membawa anak-anak kita ke Posyandu. Mudahan-mudahan semua mau diimunisasi agar anak-anak kita sehat,” kata Iman Murahman, pekan lalu.

Sebagaimana diketahui, virus polio ada tiga strain, yakni strain-1 atau tipe I, tipe II, dan tipe III. Virus-virus ini bereplikasi di usus dan dikeluarkan melalui tinja. Nah, jika selama ini vaksinasi dilakukan dengan cara tetesan, kali ini dengan cara suntikan. Vaksinasi melalui suntikan dapat mencegah serangan virus ketiga strain di atas. Sedangkan vaksin tetes hanya dapat mencegah infeksi tipe I dan III.

“Dalam sejumlah kasus di Aceh, anak-anak terinfeksi virus polio tipe 2, baik di Pidie, Bireuen, maupun Aceh Utara,” kata Iman Murahman.

Proses vaksinasi sebetulnya sudah dimulai di sejumlah Puskesmas sejak Juni 2023, akan tetapi realisasinya hingga kini masih rendah. Diungkapkan, hingga Agustus 2023 saja ada tiga kasus baru polio yang terdeteksi di Aceh. Pada Januari 2023 terungkap kasus di Aceh Utara, lalu Bireuen yang terjadi pada awal Februari 2023.

“Yang di Bireuen hampir normal lagi, karena terus diterapi. Umurnya sekitar 4 tahun. Sedangkan di Aceh Utara umurnya tiga tahun. Ketiga mereka diserang virus polio tipe 2,” katanya.

 Selama ini masyarakat Aceh sulit menerima vaksin dalam bentuk suntikan. Itu sebab, distribusi vaksin polio suntikan di Aceh juga tergolong lambat.

“Bukan cuma vaksin polio, vaksin-vaksin lain juga susah diterima,” katanya.

Jenis vaksin kedua yakni rotavirus, yang berperan mencegah diare. Pemberiannya dengan cara tetesan. Dengan pemberian ini memang akan bisa menurunkan kejadian diare pada
anak-anak umur di bawah 6 bulan yang sangat rentan. Itu sebab diberikan perlindungan rotavirus. Vaksin ini baru dikirim oleh pemerintah pusat dua pekan lalu.

Saat ini semua stok yang tersedia di Dinas Kesehatan Aceh sudah dikirim ke 23 kabupaten/kota. Selama ini banyak anakanak Aceh menderita diare.

“Diare dan radang paru-paru merupakan penyebab tertinggi kematian bayi di Aceh. Radang paru-paru sebetulnya sudah ada vaksin PCV. Namun banyak bayi yang tak diimunisasi. Dua penyakit ini sebetulnya sudah mencakup 60 persen kematian bayi,” katanya.

Iman Murahman menjelaskan, rotavirus ini terbawa juga oleh makanan dan lalat. Penularan mudah terjadi jika masyarakat tidak membiasakan pola hidup bersih dan sehat. Virus polio misalnya tersebar melalui feces penderita.

Karena ketiadaan kamar mandi/WC di rumah, sebagian masyarakat masih sering membuang air besar di sungai.

“Vitus-virusnya itu menyebar melalui feses. Anak-anak yang tertular virus polio juga ternyata selama ini tidak punya WC di rumah. Mereka tinggalnya memang dekat dengan aliran air,” kata Iman.

Satu kelompok lagi sasaran imunisasi adalah anak perempuan umur 9-14 tahun. Mereka diimunisasi untuk mencegah kanker servik. Pemberian minimal 2 dosis pada anak perempuan umur 9-14 tahun akan sangat efektif. Saat ini Dinas Kesehatan Aceh dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bersiap melakukan vaksinasi.

“Insya Allah bisa 100 persen mencegah kanker servik kelak,” kata Kabid P2P Dinas Kesehatan.

Jenis Imunisasi Yang Wajib Pada Anak
Jenis-Jenis Imunisasi Yang Wajib Pada Anak dan Manfaatnya

PHBS Bisa Cegah Penularan Penyakit

Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dapat dilakukan dengan melakukan pembiasaan seperti menjaga kebersihan lingkungan, olahraga teratur, dan mengonsumsi
makanan bergizi. Pemberdayaan masyarakat dalam upaya penerapan PHBS sangat penting untuk dilakukan, karena langkah awal untuk memulai kebiasaan ini dimulai dari rumah tangga atau keluarga.

Beberapa penyakit yang berhubungan dengan PHBS yaitu diare, cacingan, tifus, penumonia, demam berdarah, dan kaki gajah. Penyakit yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan ini menyumbang 3,5 persen dari total kematian di Indonesia.

Diare mendapat perhatian tertinggi, karena penyakit tersebut menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menjadi penyebab kematian nomor satu pada balita, sebesar 25 persen.

Diare juga berada di urutan nomor tiga sebagai penyebab kematian pada semua umur, sebesar 3,5 persen. Kerugian ekonomi menurut penelitian World Bank 2007 diperkirakan mencapai 2,3 persen dari produk domestik bruto. Menurut penelitian, penerapan PHBS terbukti mampu menurunkan sekitar 94 persen penyakit diare.

Caranya sangat sederhana yaitu cuci tangan pakai sabun (CTPS). Kampanye CTPS harus terus digelorakan untuk menjamin meningkatnya kesadaran masyarakat lewat perubahan perilaku secara berkesinambungan.

Adapun perilaku CTPS yang tepat, disebutkan, dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan terasa kotor, setelah buang air, setelah menceboki anak/bayi, setelah menggunakan pestisida dan sebelum menyusui bayi.

👁 2119 kali

Berita Terkait