Menkes: Kanker Bisa Disembuhkan, Ajak Masyarakat Tak Takut Skrining

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada peringatan Hari Kanker Sedunia yang digelar di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (4/2). (Foto : Kemenkes).
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada peringatan Hari Kanker Sedunia yang digelar di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (4/2). (Foto : Kemenkes).

JAKARTA — Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan atau skrining kanker. Imbauan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Kanker Sedunia yang digelar di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (4/2).

Dikutip dari rilis Kementerian Kesehatan, Menkes menegaskan bahwa dengan kemajuan teknologi medis, kanker bukan lagi penyakit yang tidak dapat diobati.

“Kanker sekarang bisa disembuhkan. Cancer is curable. Jadi tidak perlu takut untuk memeriksakan diri,” ujar Budi.

Menurutnya, kunci utama keberhasilan pengobatan kanker terletak pada deteksi dini. Jika sel kanker ditemukan sejak stadium awal, peluang kesembuhan meningkat secara signifikan.

Sebagai langkah konkret, pemerintah menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis setiap tahun bagi seluruh penduduk Indonesia melalui program Presiden Prabowo Subianto. Layanan ini mencakup skrining kanker payudara gratis bagi perempuan berusia di atas 30 tahun.

Untuk memperluas akses, pemerintah telah mendistribusikan sekitar 10.000 alat ultrasonografi (USG) ke puskesmas di berbagai daerah serta melatih dokter umum agar mampu melakukan skrining awal. Selain itu, layanan kemoterapi kini tersedia di 514 rumah sakit di Indonesia.

“Jangan ada lagi rasa takut atau khawatir yang membuat masyarakat enggan melakukan skrining,” tegas Menkes.

Beban Kanker dan Pentingnya Deteksi Dini

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Murti Utami, atau yang akrab disapa Ami, menyampaikan bahwa 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan penanganan.

Setiap tahun, terdapat sekitar 400 ribu kasus kanker baru, dengan kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi penyumbang tertinggi. Selain berdampak pada kesehatan, kanker juga menjadi penyakit katastropik dengan pembiayaan tinggi.

““Beban ini tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga berdampak secara ekonomi pada masyarakat,”,” jelas Ami.

Untuk menekan angka kematian dan beban pembiayaan, Kemenkes meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara. Melalui program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan usia di atas 30 tahun.

Namun hingga saat ini, baru sekitar 4 juta orang yang memanfaatkan layanan skrining tersebut. Menkes menilai rendahnya partisipasi masih disebabkan oleh rasa takut dan penyangkalan di masyarakat.

“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” ujar Budi.

Ajakan untuk Perempuan Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi langkah pemerintah dalam memperluas layanan skrining hingga ke daerah. Sebagai penyintas kanker, Linda menegaskan pentingnya deteksi dini.

“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan sejak awal dan diobati secara medis, peluang sembuh sangat besar. Saya adalah buktinya,” pungkas Linda.

👁 187 kali

Berita Terkait