BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mulai melaksanakan launching pemberian imunisasi campak rubella (MR) bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan di Provinsi Aceh sebagai langkah strategis menekan lonjakan kasus campak yang masih tinggi di daerah tersebut.
Peluncuran program ini dilakukan oleh Pemerintah Aceh yang diwakili oleh Asisten 1 Sekda Aceh, Drs. Syakir, MSi pada Rabu (22/04/2026) di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, dan turut di hadiri langsung Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, Dr. Muhazar H, SKM, M.Kes dan Plt. Kadinkes Aceh, Ferdiyus, SKM, M.Kes.
Pemberian imunisasi campak rubella bagi tenaga kesehatan ini menyasar tenaga medis, tenaga kesehatan, serta dokter umum dan dokter gigi yang tengah menjalani program internship di fasilitas kesehatan milik pemerintah Aceh tersebut. Selain itu seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan, baik itu RSU Daerah maupun Rumah sakit umum pusat, yang ada di 14 Provinsi yang kasus campaknya masih tinggi wajib untuk mendapatkan imunisasi Campak Rubella.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, mengatakan kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Kesehatan terkait pemberian imunisasi campak bagi tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemberian imunisasi campak rubella (MR) bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan, ini bertujuan untuk melindungi tenaga kesehatan dari resiko tertular. Tenaga kesehatan merupakan kelompok berisiko tinggi terpapar penyakit.
Imunisasi ini penting tidak hanya untuk melindungi diri mereka, tetapi juga untuk melindungi pasien dan mencegah penularan di fasilitas layanan kesehatan.
"Kami sangat mengharapkan partisipasi aktif seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan, sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit melalui imunisasi", sebut Ferdiyus.
Tenaga kesehatan setiap hari berhadapan langsung dengan pasien dalam waktu yang panjang. Karena itu, perlindungan ekstra melalui imunisasi sangat penting. Ia menambahkan, imunisasi ini tidak hanya bertujuan melindungi nakes, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi masyarakat tentang pentingnya vaksinasi dalam mencegah penyakit menular.
“Kita ingin nakes, khususnya di puskesmas dan bidan desa, menjadi agen edukasi di tengah masyarakat,” katanya.
Ia mengungkapkan, kasus campak di Aceh masih tergolong tinggi dan tersebar di seluruh kabupaten/kota. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 5.063 kasus campak klinis, dengan 1.233 kasus terkonfirmasi positif campak dan enam kasus rubella berdasarkan pemeriksaan laboratorium.
Lima daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Barat Daya, dan Banda Aceh.
Sementara itu, hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan Aceh mencatat 724 kasus campak klinis, dengan 124 kasus positif campak dan satu kasus rubella. Aceh Besar masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
“Sebagian besar pasien, khususnya dari Aceh Besar dan Banda Aceh, dirawat di RSUD Zainoel Abidin,” ujarnya.
Ferdiyus juga menyebut tingginya kasus campak tersebut berkorelasi dengan rendahnya cakupan imunisasi di Aceh yang terus mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir.
Pada 2025, cakupan imunisasi dasar lengkap di Aceh hanya mencapai 34,3 persen. Sementara itu, cakupan imunisasi MR pada bayi sebesar 39,9 persen dan pada anak bawah dua tahun (baduta) hanya 23 persen.
Menurutnya, pelaksanaan program imunisasi di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan cakupan layanan, kualitas pelayanan, sistem pencatatan dan pelaporan, hingga adanya penolakan masyarakat terhadap imunisasi.

Pemerintah Aceh berharap melalui pencanangan pemberian imunisasi campak bagi tenaga kesehatan ini, risiko penularan di fasilitas pelayanan kesehatan dapat ditekan, sekaligus mendorong peningkatan cakupan imunisasi di masyarakat secara luas.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si menyebutkan vaksinasi ini sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan tenaga kesehatan.
Ia juga mendorong seluruh kabupaten/kota di Aceh untuk segera mengikuti langkah tersebut, mengingat capaian imunisasi yang masih rendah di tengah meningkatnya kasus campak.
“Diperlukan sinergi semua pihak, terutama tenaga kesehatan, agar program imunisasi ini berjalan maksimal,” ujarnya.
👁 450 kali




