BANDA ACEH -- Memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62 Tahun 2026, Forum Aceh Menulis (FAMe) Aceh berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Aceh menggelar edukasi kesehatan bertema HIV, Tuberkulosis (TBC), dan stunting. Kegiatan berlangsung di Hamon Coffee Shop, UPTD Bapelkes Aceh, Sabtu (7/11/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Sambut HKN ke-62: FAMe Aceh dan Dinas Kesehatan Aceh Perkuat Literasi Kesehatan Masyarakat” ini dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, SKM., M.Kes.
Pembina FAMe Aceh, Yarmen Dinamika dalam laporannya, menyampaikan bahwa kegiatan FAMe telah berlangsung sejak tahun 2017 dan pertemuan kali ini merupakan pertemuan ke-122.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi FAMe dalam memperingati HKN ke-62 sekaligus memperluas wawasan dan meningkatkan pemahaman anggota mengenai berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
"Edukasi yang diberikan diharapkan dapat memperkuat pengetahuan anggota FAMe sehingga mereka mampu turut menyebarluaskan informasi kesehatan yang benar melalui tulisan di berbagai media komunikasi", harap Yarmen.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, SKM., M.Kes, dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi FAMe Aceh dengan Dinas Kesehatan Aceh melalui UPTD Bapelkes Aceh dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Ferdiyus menegaskan bahwa literasi kesehatan menjadi sangat penting karena masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mencari, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan secara benar.Terlebih di era digital saat ini, informasi kesehatan begitu mudah diperoleh melalui berbagai platform, tetapi tidak semuanya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Plt. Kadinkes itu juga menegaskab bahwa informasi kesehatan yang benar dapat menyelamatkan kehidupan seseorang, sementara informasi yang keliru justru dapat membahayakan masa depan.
"Satu mitos tentang HIV dapat melahirkan stigma dan diskriminasi. Kesalahpahaman tentang TBC dapat menyebabkan seseorang terlambat mendapatkan pengobatan. Begitu pula kurangnya pemahaman mengenai pentingnya gizi sejak dini dapat berdampak terhadap tumbuh kembang generasi penerus", sebut Ferdiyus.
Karena itu, ia berharap komunitas penulis seperti FAMe dapat mengambil peran strategis sebagai penyebar informasi kesehatan yang edukatif, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi HIV dan TBC yang dipandu oleh dr. Yurlida dari UPTD Bapelkes Aceh. Sebagai Tutor Nasional Pelatihan Eliminasi TBC dan pemegang sertifikat Trainer Edukasi HIV, dr. Yurlida menyampaikan berbagai informasi penting mengenai kedua penyakit tersebut.
Materi HIV mencakup pemahaman dasar tentang HIV dan AIDS, cara penularan, pencegahan, pemeriksaan, serta pentingnya menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.
Sementara materi TBC membahas pengenalan gejala, cara penularan, upaya pencegahan, deteksi dini, serta pentingnya menjalani pengobatan hingga tuntas.
Melalui edukasi ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami aspek medis HIV dan TBC, tetapi juga mampu menyampaikan informasi yang tepat kepada masyarakat tanpa menimbulkan ketakutan maupun stigma.
Materi selanjutnya yang dibahas adalah terkait dengan pencegahan stunting yang disampaikan oleh ahli gizi masyarakat, Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM., dari UPTD Bapelkes Aceh.
Dalam pemaparannya, Sri menekankan bahwa pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu hamil atau keluarga yang telah memiliki anak, tetapi harus dipersiapkan sejak masa remaja.
"Generasi muda, baik perempuan maupun laki-laki, perlu memahami pentingnya kesehatan, gizi seimbang, pola hidup sehat, serta persiapan menjadi calon orang tua yang sehat dan bertanggung jawab", jelas Sri Mulyati Mukhtar.
Remaja perempuan merupakan calon ibu di masa depan, sementara remaja laki-laki juga memiliki peran penting dalam mempersiapkan kehamilan yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial turut memengaruhi pola konsumsi remaja.
"Berbagai promosi makanan dan minuman melalui konten digital, influencer, hingga layanan pesan antar makanan dapat memengaruhi pilihan konsumsi sehari-hari", jelas Sri.
Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan memilih makanan bergizi, memahami kebutuhan tubuh, dan tidak mudah terpengaruh tren konsumsi yang belum tentu sehat.
Kegiatan edukasi berlangsung dengan penuh semangat. Antusiasme peserta terlihat melalui perhatian, diskusi, dan interaksi selama penyampaian materi.
Kolaborasi ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas anggota FAMe Aceh agar mampu mengolah informasi kesehatan menjadi tulisan yang mudah dipahami, menarik, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang literasi dan penulisan, FAMe memiliki potensi besar untuk membantu melawan penyebaran hoaks kesehatan, meluruskan mitos, mengurangi stigma, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan.
👁 233 kali




