BANDA ACEH — Dinas Kesehatan Aceh bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya terus mengintensifkan intervensi pengendalian vektor nyamuk di Kabupaten Pidie Jaya, menyusul adanya risiko penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria pascabanjir bandang. Intervensi dilakukan melalui kegiatan larvasidasi di sejumlah wilayah terdampak pada 18–22 Januari 2026 lalu. Pidie Jaya sebagai salah satu daerah yang terdampak bencana banjir bandang memiliki risiko tinggi terhadap peningkatan penyakit
menular berbasis vektor, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perubahan kondisi lingkungan akibat banjir yang memicu terbentuknya banyak genangan air, kerusakan sanitasi, serta penumpukan sampah dan material sisa bencana—faktor yang menjadi tempat ideal perkembangbiakan nyamuk Aedes dan Anopheles.
Di lokasi, tim pengendalian vektor melakukan pemetaan wilayah berisiko, pemantauan genangan air, serta penaburan larvasida di lingkungan permukiman, rumah warga, dan lokasi pengungsian di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu.
Dalam laporannya, Israwandi, SKM, МKM, ketua tim Pengendali Vektor yang ditugaskan ke kabupaten Pidie Jaya, menyebutkan jika Intervensi ini dilakukan di sejumlah gampong, yakni Lhok Sandeng, Meunasah Raya, dan Blang Cut di Kecamatan Meurah Dua, serta Gampong Beurawang, Manyang Cut, dan Gampong Meunasah Lhok di Kecamatan Meureudu.
"Di lokasi tim pengendali vektor ini melakukan monitoring keberadaan genangan air yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk, sekaligus melakukan penaburan larvasida pada genangan air di lingkungan, rumah, dan tempat pengungsian", ujar Israwandi, SKM, МKM.
Kegiatan ini menjadi bagian dari respons kesehatan masyarakat untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk sebelum memasuki fase peningkatan kasus penyakit.
Pasca bencana, populasi vektor dapat berkembang dengan cepat dan memicu kejadian luar biasa (KLB). Oleh karena itu, intervensi pengendalian vektor yang cepat, terencana, dan terpadu sangat diperlukan untuk menekan risiko penularan DBD dan malaria. Intervensi ini mencakup pengelolaan lingkungan, pengendalian larva dan nyamuk dewasa, serta pelibatan masyarakat terdampak sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat pascabencana.
Karena itu, kami terus mendorong penguatan strategi pengendalian vektor secara komprehensif, mulai dari koordinasi lintas sektor, optimalisasi surveilans epidemiologi, perbaikan manajemen lingkungan, hingga peningkatan partisipasi masyarakat melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkelanjutan.
"Masyarakat perlu di dorong berpartisipasi aktif dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui edukasi dan sosialisasi tentang 3M Plus, terutama pascabanjir", harap Israwandi.
Selain ke Kabupaten Pidie Jaya, tim pengendalian vektor penyakit menular juga ditugaskan ke sejumlah kabupaten terdampak bencana lainnya di Aceh, termasuk ke Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Tamiang.
👁 242 kali




