Kusta Bisa Sembuh, Temukan Kasus Sebanyak Mungkin dan Obati Sampai Tuntas

Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu (11/3).
Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu (11/3).

(JAKARTA) -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan komitmennya untuk mempercepat eliminasi kusta di Indonesia melalui penguatan deteksi dini, pengobatan hingga tuntas, serta pemberian pencegahan kepada kontak erat pasien. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus pemerintah dalam menekan penularan penyakit yang masih disertai stigma di masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan dalam Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu (11/3).

Dikutip dari situs kemkes.go.id, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kusta merupakan penyakit menular yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan sering dikaitkan dengan stigma serta diskriminasi sosial. Padahal secara ilmiah penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia.

“Kusta ini sering diasosiasikan dengan negara miskin karena sejak ribuan tahun lalu penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga muncul berbagai stigma. Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri dan obatnya sudah tersedia,” ujar Budi.

Menurutnya, strategi utama dalam pengendalian kusta adalah meningkatkan penemuan kasus di masyarakat agar pasien dapat segera diobati dan rantai penularan dapat dihentikan.

“Jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak. Justru itu menunjukkan sistem deteksi kita bekerja dengan baik. Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati, karena obatnya ada dan pengobatannya bisa selesai,” kata Budi.

Ia menjelaskan bahwa pengobatan kusta relatif sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar enam bulan apabila pasien menjalani terapi secara rutin hingga tuntas.

Untuk mempercepat penemuan kasus, Kemenkes juga memperkuat skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini diharapkan mampu membantu menemukan kasus lebih dini sehingga pengobatan dapat segera dilakukan.

“Strateginya jelas: temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan,” ujarnya.

Di wilayah Indonesia Timur, Kemenkes juga mendorong pemeriksaan tambahan untuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat melalui pemeriksaan genetik, sehingga pasien dapat memperoleh terapi yang tepat.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam menghapus stigma terhadap penyintas kusta.

“Peringatan Hari Kusta Sedunia merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta,” ujar Andi.

Ia menambahkan, rangkaian kegiatan peringatan tahun ini mencakup skrining mandiri keluarga, lomba penulisan bagi jurnalis, hingga kampanye edukasi kepada masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Kemenkes juga memberikan penghargaan kepada sejumlah fasilitas kesehatan yang aktif menemukan kasus baru kusta, di antaranya puskesmas di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Brebes, dan Kota Jayapura.

Kemenkes mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila menemukan gejala kusta serta mendukung upaya penghapusan stigma agar pasien dapat memperoleh pengobatan secara cepat dan tuntas.

👁 5 kali

Berita Terkait