BANDA ACEH — Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit menular di wilayah terdampak banjir dan longsor, Dinas Kesehatan Aceh menurunkan tim vaksinasi ke sejumlah daerah mulai Minggu (4/1/2026). Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, khususnya campak dan tuberkulosis (TBC), di lokasi pengungsian.
Dinas Kesehatan Aceh memobilisasi tenaga vaksinator dari luar wilayah terdampak untuk memberikan imunisasi tambahan kepada anak usia balita. Balita yang menjadi sasaran program imunisasi tambahan ini adalah balita berusia 9 - 59 bulan atau 9 bulan sampai 5 tahun.
Tujuannya untuk mencegah penularan penyakit secara meluas, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti Campak dan TBC. Upaya ini difokuskan menjelang relokasi pengungsi ke hunian sementara, mengingat tingginya risiko penularan penyakit di lingkungan pengungsian yang padat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, menyebutkan bahwa campak dan TBC menjadi penyakit yang paling diwaspadai saat ini.
"Besok (Senin, 5/), kita akan turunkan Tim untuk vaksinasi untuk mencegah penularan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi, sehingga tidak menjadi penularan yang lebih besar lagi, seperti Campak TBC", jelas Ferdiyus.

Ia menjelaskan, kondisi masyarakat yang masih tinggal di pengungsian dan keterbatasan sarana sanitasi meningkatkan risiko penularan penyakit menular, terutama pada anak-anak. “Campak sangat mudah menyebar di kerumunan. Anak-anak juga sulit dibatasi aktivitasnya di dalam tenda pengungsian,” kata Ferdiyus.
Sementara itu Kabid P2P Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, menyebutkan jika program imunisasi tambahan ini akan dimulai pada Senin (5 Januari 2026).
"Mulai 5 Januari ini kita akan melakukan imunisasi tambahan kepada anak usia 9-59 bulan, atau anak usia 9 bulan sampai dengan usia 5 tahun untuk mendapatkan kekebalan, karena sudah mendapatkan kasus Campak di Aceh Tamiang, Aceh Utara, di Pidie, di Bireuen, dan juga di Pidie Jaya, sehingga sehingga kita perlu melaksanakan imunisasi tambahan tersebut agar penularannya tidak semakin meluas", jelas dr. iman.
Setidaknya ada tiga alasan pentingnya imunisasi tersebut. Pertama untuk melindungi diri sendiri, dimana imunisasi akan membentuk antibodi sehingga tidak terkena penyakit berat atau tidak menimbulkan kecacatan bahkan kematian. Kemudian dari sisi orang lain ada dua hal, mungkin yang pertama dia membentuk kekebalan kelompok. Dengan imunisasi, transmisi bibit penyakit akan tertahan, pun kalau tersebar tidak menimbulkan penyakit karena banyak yang sudah menerima vaksin.
Ketiga, untuk melindungi orang lain. Anak masih tergantung pada orang tua dan keluarganya, sehingga hidup bersama. Apabila memberikan anak perlindungan dengan imunisasi, maka satu keluarga juga terlindungi.
Selain tim vaksinasi, Dinas Kesehatan Aceh juga menurunkan tim perbaikan dan inventarisasi alat kesehatan. “Hari ini kita melepas dua tim, yakni tim vaksinasi ke enam kabupaten dan tim perbaikan serta inventarisasi alat kesehatan ke lima kabupaten/kota,” jelasnya.
Masih menurut Ferdiyus, kalau kita baca koran Serambi hari ini, Mendagri saat ini memfokuskan penanganan dampak kesehatan pascabencana di tujuh kabupaten prioritas, yakni Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Fokus ini sejalan dengan meningkatnya kerentanan kelompok pengungsi, terutama anak-anak, lansia, serta warga dengan kondisi kesehatan rentan.
Walaupun demikian kita juga tidak boleh melupakan kabupaten kota lainnya yang juga terdampak, seperti Aceh Singkil yang saat ini kondisinya juga terkena banjir, ia mencontohkan.

Ferdiyus juga meminta tim yang diturunkan ke lapangan untuk mengumpulkan data yang konkret, khususnya terkait penderita kasus TBC. “Kami berharap tim bisa membawa pulang data yang valid, by name by address hingga tingkat gampong. Data ini penting agar dapat digunakan pada saat pelaksanaan vaksinasi berikutnya data yang didapat sudah benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.
Pemerintah Aceh bersama tenaga kesehatan terus memperkuat upaya pencegahan melalui pemantauan kesehatan, pelayanan medis di posko pengungsian, serta edukasi kepada masyarakat guna menekan potensi penyebaran penyakit menular di wilayah terdampak bencana.
👁 282 kali



