Kemenkes Ubah Strategi Pengendalian TB, Pelacakan 100 Persen Kontak Erat Jadi Kunci Eliminasi 2030

Ilustrasi Strategi Pengendalian TB Kementerian Kesehatan. [ilustrasi gambar : generated by AI]
Ilustrasi Strategi Pengendalian TB Kementerian Kesehatan. [ilustrasi gambar : generated by AI]

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengubah strategi pengendalian tuberkulosis (TB) dengan mewajibkan pelacakan atau tracing terhadap 100 persen anggota keluarga dan kontak erat pasien TB. Langkah ini menjadi strategi utama untuk memutus rantai penularan sekaligus mempercepat target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.

Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus saat membuka Forum Nasional Tuberkulosis 2026 di Jakarta, Selasa (7/7).

Menurut Wamenkes Beny, keberhasilan pengendalian TB sangat bergantung pada kemampuan menemukan seluruh kontak erat pasien sehingga penularan dapat dihentikan sedini mungkin.

"Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen. Kita jangan mancing di laut, tetapi mancing di kolam ikan. Yang sakit harus segera diobati, yang belum sakit harus dilindungi," ujarnya.

Selama ini, penanganan TB dinilai masih berfokus pada pengobatan pasien yang telah terdiagnosis, sementara sumber penularan di lingkungan terdekat belum sepenuhnya tertangani. Karena itu, Kemenkes kini memperluas pelacakan kontak erat dengan memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), penggunaan rontgen portabel, serta pemeriksaan cepat untuk menemukan kasus secara lebih dini.

Wamenkes Beny memastikan dukungan anggaran pelaksanaan strategi tersebut telah disiapkan untuk tahun 2026. Ia juga mengajak pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan swasta, organisasi profesi, hingga kader kesehatan di masyarakat untuk bersama-sama menjalankan strategi baru tersebut.

"Strategi dan anggaran sudah ada, alat sedang disiapkan. Tinggal kita kerjakan bersama-sama," tegasnya.

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TB yang tinggi. Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia, dengan estimasi 1,08 juta orang menderita TB dan sekitar 126 ribu kematian setiap tahunnya akibat penyakit tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, menyampaikan bahwa upaya pengendalian TB dalam lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif.

Notifikasi penemuan kasus meningkat sebesar 31 persen, sementara jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan bertambah 27 persen. Capaian tersebut didorong oleh penemuan kasus secara aktif serta pemanfaatan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau puluhan juta masyarakat.

Meski demikian, Asnawi menilai tantangan pengendalian TB masih cukup besar, mulai dari deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat, keterbatasan akses layanan di daerah terpencil, hingga memastikan pasien menyelesaikan pengobatan sampai tuntas.

"TB bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Tantangan kita adalah deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat, akses di daerah terpencil, dan kesinambungan pengobatan," katanya.

Untuk memperkuat kemandirian nasional, Kemenkes juga terus mendorong pengembangan teknologi kesehatan, antara lain PCR-TB buatan dalam negeri, pengembangan vaksin bersama perguruan tinggi, serta penambahan laboratorium mikrobiologi di sejumlah provinsi.

Selain aspek medis, persoalan stigma terhadap penyandang TB masih menjadi tantangan serius. Dalam forum tersebut, penyintas TB resistan obat (TB-RO), Veronika Jovelina Therik, membagikan pengalaman kehilangan mata pencaharian sebagai guru les akibat stigma dari lingkungan sekitar.

Ia juga menceritakan perjuangannya menjalani pengobatan dengan berbagai efek samping, seperti mual, penurunan berat badan secara drastis, hingga kesulitan berjalan, sebelum akhirnya dinyatakan sembuh total.

"Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pasien TB tidak membutuhkan stigma, tetapi dukungan. TB resistan obat memang berat, tetapi bisa disembuhkan jika pasien patuh berobat sampai tuntas," tuturnya.

Menutup Forum Nasional Tuberkulosis 2026, Wamenkes Beny menegaskan empat pilar utama percepatan eliminasi TB di Indonesia, yaitu pelacakan kasus secara masif melalui Program Cek Kesehatan Gratis, pengobatan segera bagi pasien yang terdiagnosis, pemberian terapi pencegahan bagi kontak erat, serta penguatan kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa.

Masyarakat yang mengalami gejala TB, seperti batuk selama dua minggu atau lebih, atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB, diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.

👁 138 kali

Berita Terkait