Jadi Salah Satu Penyebab Kematian Tertinggi pada Perempuan, Kenali 3 Pemeriksaan untuk Deteksi Dini Kanker Leher Rahim

Flyer Kanker Leher Rahim
Flyer Kanker Leher Rahim

BANDA ACEH – Kanker leher rahim atau kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan. Ironisnya, penyakit ini sering berkembang tanpa gejala sehingga banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Karena itu, para ahli kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini. Kementerian Kesehatan RI pun mengajak perempuan untuk tidak menunggu hingga muncul keluhan, melainkan melakukan pemeriksaan secara berkala agar perubahan sel abnormal dapat ditemukan sedini mungkin.

Lalu, pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker leher rahim?

1. Tes DNA HPV, Mendeteksi Virus Penyebab Kanker

Tes DNA HPV merupakan metode skrining yang bertujuan mendeteksi keberadaan Human Papillomavirus (HPV), virus yang menjadi penyebab utama sebagian besar kasus kanker serviks.

Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim atau vagina untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HPV berisiko tinggi.

Karena infeksi HPV sering tidak menimbulkan gejala, tes ini menjadi langkah penting untuk mengetahui risiko sejak dini, bahkan sebelum terjadi perubahan pada sel leher rahim.

2. Tes IVA, Pemeriksaan Sederhana dan Cepat

Pilihan pemeriksaan lainnya adalah Tes IVA atau Inspeksi Visual Asam Asetat. Metode ini banyak digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan karena sederhana, cepat, dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu singkat.

Pada pemeriksaan ini, petugas kesehatan mengoleskan asam asetat pada leher rahim untuk melihat ada tidaknya lesi prakanker atau perubahan sel yang tampak sebagai lesi acetowhite.

Tes IVA dinilai efektif sebagai upaya skrining di masyarakat karena mudah dijangkau dan tidak memerlukan peralatan laboratorium yang rumit.

3. Pap Smear, Deteksi Kelainan Sel Sejak Awal

Pap smear telah lama dikenal sebagai salah satu pemeriksaan andalan dalam pencegahan kanker serviks.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim untuk mendeteksi apakah terdapat sel-sel abnormal, baik yang bersifat prakanker maupun sel kanker itu sendiri.

Dengan menemukan kelainan pada tahap awal, dokter dapat memberikan penanganan lebih cepat sebelum berkembang menjadi kanker yang lebih serius.

Infeksi HPV Sering Datang Tanpa Tanda

Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). Virus ini ditularkan melalui kontak seksual dan sering kali tidak menimbulkan keluhan apa pun.

Akibatnya, banyak perempuan tidak menyadari dirinya telah terinfeksi. Tanpa pemeriksaan rutin, infeksi HPV dapat berkembang menjadi perubahan sel abnormal pada leher rahim yang kemudian berpotensi menjadi kanker.

Padahal, kanker serviks bukanlah vonis yang tidak bisa dilawan.

Jika ditemukan lebih awal, peluang keberhasilan pengobatan meningkat secara signifikan. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa.

Seluruh perempuan usia 30–69 tahun yang sudah pernah melakukan kontak seksual dianjurkan menjalani skrining kanker leher rahim secara berkala di fasilitas kesehatan terdekat. Anjuran ini bukan tanpa alasan. Menunggu munculnya keluhan justru dapat membuat penyakit terlambat diketahui.

Deteksi dini adalah bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Hanya dengan meluangkan waktu untuk melakukan pemeriksaan, perempuan dapat memperoleh kesempatan lebih besar untuk hidup sehat, menjalani pengobatan lebih efektif, dan terhindar dari risiko kematian akibat kanker serviks.

Kanker serviks memang dapat menyerang siapa saja. Namun, dengan pengetahuan yang cukup, pemeriksaan rutin, dan keberanian untuk memeriksakan diri sebelum timbul gejala, semakin banyak nyawa perempuan Indonesia yang dapat diselamatkan.

Karena itu, jangan menunggu sampai terlambat. Jika Anda atau anggota keluarga memenuhi kriteria skrining, segera manfaatkan layanan deteksi dini kanker serviks di fasilitas kesehatan terdekat.

Deteksi dini bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan investasi kesehatan untuk masa depan. Semakin cepat kelainan ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh dan tetap menjalani hidup yang produktif bersama keluarga tercinta.

👁 76 kali

Berita Terkait