(ACEH TIMUR) -- Tim Pelayanan Kesehatan Bergerak Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (PKB-DTPK) Dinas Kesehatan Aceh menembus medan berat dan akses jalan rusak untuk mencapai Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, guna memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak banjir. Perjalanan menuju lokasi pelayanan diwarnai jalan terjal dan licin, dengan kondisi lingkungan rusak parah akibat banjir bandang berlumpur.
Akses menuju wilayah tersebut harus menggunakan kendaraan double gardan agar tidak terjebak lumpur di jalur yang masih rusak parah akibat banjir bandang.
Saat tim ini menuju Simpang Jernih harus melalui Desa Babo, Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu wilayah yang mengalami dampak banjir paling parah. Di sepanjang jalur tersebut, gelondongan kayu berserakan merusak badan jalan, rumah warga, dan menyebabkan alur sungai melebar.

Meski dihadapkan pada risiko dan keterbatasan akses, Tim PKB-DTPK tetap hadir memberikan pelayanan kesehatan kepada warga di sini. Pelayanan difokuskan di Desa Batu Sumbang dan Puskesmas Simpang Jernih, wilayah yang terdampak paling berat bersama Desa Pante Kera dan Desa Simpang Jernih pada Rabu (7/1/2026).
Tim kesehatan terdiri dari dokter spesialis anak, dokter spesialis THT, dokter gigi spesialis, dokter umum dari Puskesmas Simpang Jernih, bidan desa setempat, serta perawat dari Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Selama kegiatan berlangsung, sebanyak 201 warga dilayani di Mesjid Desa Batu Sumbang dan 51 pasien di Puskesmas Simpang Jernih.
"Penyakit terbanyak yang ditangani meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dermatitis, hipertensi, serta gangguan lambung (gastritis), yang sebagian besar dipicu oleh lingkungan pascabanjir dengan sanitasi terbatas dan paparan air kotor", ujar dr. Lily Setiani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. L.F (K), dokter Spesialis THT yang ikut dalam rombongan ke Simpang Jernih.
"Selain pelayanan pengobatan, Tim PKB-DTPK juga memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, meliputi upaya menjaga kebersihan lingkungan pascabanjir, mencuci tangan, penggunaan obat yang benar, serta perlindungan anak dari risiko penyakit kulit dengan menghindari bermain di genangan air kotor", tambah Lily.
Upaya pemenuhan gizi dilakukan melalui pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil. Dalam kunjungan ke salah satu lokasi pengungsian, tim dokter anak menemukan satu kasus gizi buruk tipe marasmus pada anak berusia empat tahun.
"Kasus tersebut langsung ditangani dengan penyuluhan kepada keluarga dan pemberian makanan tambahan sebagai langkah awal intervensi gizi", tambah Lily.
Pelayanan kesehatan di Desa Batu Sumbang dipusatkan di Mesjid yang ada di sana, karena bangunan Polindes rusak berat, seluruh peralatan medis tersapu banjir, serta area sekitar dipenuhi lumpur setinggi hampir satu meter. Fasilitas MCK juga tidak dapat digunakan, sementara kebutuhan air bersih warga masih sangat terbatas.
Dihubungi terpisah di Banda Aceh, Kepala Bidang Operasional HEOC Dinkes Aceh, dr. Husni Mubarak, menyebut jika kehadiran Tim PKB-DTPK di Simpang Jernih untuk memberikan layanan kesehatan bergerak dengan menjangkau wilayah terpencil yang yang susah di akses akibat bencana, sekaligus menjadi bagian dari upaya mencegah krisis kesehatan lanjutan di tengah kondisi darurat yang belum sepenuhnya pulih.
"Kehadiran tim lintas profesi ini, termasuk kehadiran dokter spesialis yang di datangkan langsung dari Banda Aceh bertujuan menjawab berbagai keluhan medis masyarakat di tengah situasi darurat pascabencana, terutama sekali kelompok rentan, termasuk balita, anak-anak, wanita hamil dan lansia. Kita tentu sangat berharap agar kehadiran tim Pelayanan Kesehatan Bergerak DTPK Dinkes Aceh ini, dapat langsung dirasakan manfaatkan oleh warga penyintas banjir di sana", tutup Rais.
👁 304 kali




