ISPA dan Penyakit Kulit Dominasi Penyakit Pascabanjir Aceh Utara, 1.300 Warga Terlayani Tim EMT Terpadu

Tim EMT Terpadu Dinkes Aceh Batch V yang sedang bertugas di Aceh Utara sedang memantau Status Gizi Balita dengan menggunakan Pita LILA di salah satu lokasiPengoabatan di  Desa Abong-Abong, kec. Cot Girek,  kab.Aceh Utara pada Rabu (7/1).  Selain pengobatan, tim juga melakukan pemantauan air bersih, jamban, pengelolaan sampah, trauma healing anak, serta pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil. Tim EMT terpadu ini juga melakukan skrining status gizi balita dan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta trauma healing bagi anak-anak di wilayah yang terdampak banjir di Aceh Utara.
Tim EMT Terpadu Dinkes Aceh Batch V yang sedang bertugas di Aceh Utara sedang memantau Status Gizi Balita dengan menggunakan Pita LILA di salah satu lokasiPengoabatan di Desa Abong-Abong, kec. Cot Girek, kab.Aceh Utara pada Rabu (7/1). Selain pengobatan, tim juga melakukan pemantauan air bersih, jamban, pengelolaan sampah, trauma healing anak, serta pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil. Tim EMT terpadu ini juga melakukan skrining status gizi balita dan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta trauma healing bagi anak-anak di wilayah yang terdampak banjir di Aceh Utara.

BANDA ACEH — Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare menjadi kasus paling banyak ditemukan dalam pelayanan kesehatan pascabanjir di Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan laporan Emergency Medical Team (EMT) yang diterima Health Emergency Operation Center (HEOC) Aceh, selama bertugas 4–7 Januari 2026, sebanyak sekitar 1.300an warga telah mendapatkan layanan kesehatan yang diberikan oleh tim EMT terpadu Batch V yang dikirim oleh HEOC Dinkes Aceh ke Kabupaten ini.

Pelayanan dilakukan oleh tim EMT tepadu ini di sejumlah kecamatan kabupaten Aceh Utara, meliputi Baktiya, Tanah Jambo Aye, Langkahan, Seunedon, Lapang, Samudera, Cot Girek, Sawang, hingga ke Babah Buloh. Layanan diberikan melalui posko kesehatan, fasilitas pengungsian, serta pelayanan mobile ke desa-desa yang sulit dijangkau akibat akses jalan rusak dan berlumpur akibat terjangan banjir.

Lokasi Pelayanan tersebar mulai dari Gampong Alue Ie Tarek Dusun Muda Syik, Pang Bayak Kec. Baktia, Dusun Pante Reusip, Desa Geudumbak Kec. Langkahan, pada hari pertama pelayanan (Minggu, 4/1).

Kegiatan berlanjut hingga Rabu (7/1),di sejumlah titik meliputi Gampong Matang Cempedak, Baktya, Dayah Siratul Huda, Desa Babah Krueng Kec. Sawang, Gampong Biram Cut, Dusun Teungoh Kec.Tanah Jambo Aye, Desa Kuala Kereuto, Kec. Lapang, Pucok Alu, Lhokberingen, Kec. Tanah Jambo Aye, desa Matang Tunong , Kec. Samudra, Desa Abong-Abong, kec. Cot Girek, Desa Paya Teurbang Dusun Syuhada, kec.Samudra,  desa Bungong, kec. Pirak Timu, hngga ke Desa Lhok gajah dan Desa Blang Reuling Babah Buloh, Kabupaten Aceh Utara.

Tim EMT Terpadu Sedang Memberikan Pelayanan Kesehatan Kepada Warga penyintas bajir di Pucok Alu, Lhokberingen kec. Tanah Jambo Aye Aceh Utara. Pelayanan di berikan di bawah tenda pada Selasa (6/1).

Berdasarkan Laporan harian yang dikirim via Whatsapps, HEOC mencatat, mayoritas pasien datang dengan keluhan ISPA, diikuti penyakit kulit seperti tinea dan dermatitis, serta diare. Selain itu, ditemukan pula kasus demam (febris), nyeri otot (myalgia), gangguan pencernaan (dispepsia), hipertensi, dan keluhan muskuloskeletal. Pola penyakit ini konsisten di hampir seluruh lokasi pelayanan EMT.

Tingginya kasus penyakit tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan pascabanjir yang belum pulih. Hasil pemantauan lapangan menunjukkan sanitasi lingkungan yang buruk, keterbatasan air bersih yang layak konsumsi, jamban yang rusak atau bahkan tidak tersedia di lokasi, serta tidak adanya sarana pengelolaan sampah di sebagian besar lokasi yang dituju dan juga permukiman warga.

Pelayanan EMT Terpadu Batch V ini juga  menjangkau wilayah dengan akses sulit, termasuk desa yang harus ditempuh menggunakan perahu dan rakit bambu akibat jalan terputus. 

Selain pengobatan, tim juga melakukan pemantauan air bersih, jamban, pengelolaan sampah, trauma healing anak, serta pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil. Tim EMT terpadu ini juga melakukan skrining status gizi balita dan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta trauma healing bagi anak-anak.

Dilokasi anak-anak juga di ajak bermain ular tangga edukatif dengan tema PHBS di saat darurat.Disela-sela bermain, anak-anak juga di edukasi terkait dengan PHBS, seperti Cuci Tangan Pakai Sabun. Selain itu, kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga lansia tetap menjadi prioritas utama layanan tim EMT Terpadu ini.

👁 205 kali

Berita Terkait