Info Kesehatan : Stunting, Ancaman Utama Kualitas Manusia

Kategori : Berita Selasa, 21 Juni 2022
Print Friendly and PDF
Flyer Cegah Stunting
Flyer Cegah Stunting

(Banda Aceh, 21/06) -- Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Stunting yang merupakan masalah kurang gizi kronis ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Anak yang mengalami gizi kronis ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Indonesia menempati urutan kedua di Asia Tenggara dan keempat dunia dengan beban anak yang mengalami stunting.

Berdasarkan hasil Studi Kasus Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, prevalensi stunting di Indonesia berada di 24,4 persen. Angka ini mengalami penurunan 3,3 persen di tahun 2019 sebesar 27,7 persen. Prevalensi stunting ini lebih baik dibandingkan Myanmar (35 persen), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%), dan Singapura (4%).

Jika dirunut menurut 34 provinsi, Aceh merupakan salah satu daerah dengan kasus stunting tertinggi di Indonesia. “Prevalensi anak stunting di Aceh jauh di atas rata-rata nasional,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, dr Sulasmi, MHSM.

Dari data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Aceh menempati posisi ketiga tertinggi setelah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat di posisi pertama dan kedua. “Di Indonesia prevalensi stunting itu berada di 24,4 persen. Jadi kita jauh dari rata-rata nasional,” ucapnya.

Kabupaten Gayo Lues menjadi daerah prevalensi stunting tertinggi, 42,9 persen, disusul Kota Subulussalam 41,8 persen. Sementara Kota Banda Aceh (23,4%) dan Kota Sabang (23,8%) menjadi daerah dengan prevalensi terendah.

Dokter Sulasmi menyebut, ini merupakan tantangan besar bagi Aceh untuk menurunkan prevalensi stunting dan tentunya harus dilakukan dari lintas sektor.

Lebih lanjut dia mengatakan, ada dua intervensi yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting, yakni intervensi sensitif dan intervensi spesifi k. Dinas Kesehatan sambungnya, hanya bisa melakukan dari segi intervensi spesifi k dan hanya mampu mendongkrak 30 persen untuk menekan prevalensi anak stunting.

“Kalau intervensi sensitif itu dilakukan di luar sektor kesehatan, seperti sektor pertanian, pendidikan, keluarga berencana, PUPR, perekonomian, dan lain-lain,” ujar dr Sulasmi.

Sehingga, lanjut Kabid Kesmas Dinkes Aceh itu, jika ini kerja sama lintas sektor ini bisa terjalin dengan baik, dia sangat yakin intervensi sensitif ini dapat menekan angka hingga 70 persen.

Pola Asuh Jadi Tantangan Terbesar di Aceh

Stunting di Aceh masih tinggi dan berdasarkan data terakhir, provinsi ini berada pada peringkat 7 di Indonesia. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun), akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Kekurangan gizi terjadi dari sejak bayi dalam kandungan hingga pada masa awal setelah bayi lahir. Namun kondisi stunting baru kelihatan setelah bayi berusia 2 tahun. Pada periode inilah sebenarnya penting dilakukan pencegahan, karena stunting sebenarnya dapat disembuhkan.

“Artinya, mulai usia 4 bulan hingga 6 bulan, apabila dite[1]mukan anak yang mengalami stunting, maka akan dilakukan upaya pengobatan agar stunting tersebut dapat terobati,” kata Direktur Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSP USK) Banda Aceh, dr. Iflan Nauval M. ScIH, Sp. GK (K).

Pengobatan lanjutnya, tidak harus dari obat-obatan, tetapi bisa dalam bentuk pemahaman tentang pola asuh kepada orang tuanya. Kemudian pemilihan makanan yang baik seperti MPASI (makanan pendamping ASI) sehingga dapat membuat si anak tumbuh dengan optimal.

Menurut dokter Iflan, tantangan terbesar dalam hal penanganan stunting di Aceh adalah pola asuh. Dimana banyak yang ditemui di lapangan bahwa pola asuh pemberian makanan kepada bayi masih tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang disarankan oleh World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF).

“Jadi masih banyak diberikan susu formula di bawah usia 6 bulan, yang sebenarnya di bawah 6 bulan ini harusnya itu diberikan ASI ekslusif. Kalaupun harus diberikan susu formula, itu harus sepengetahuan dan seizin dokter anak yang merawat,” sebut Dosen Fakultas Kedokteran USK ini.

Selanjutnya, makanan pendamping ASI juga menjadi poin penting, dimana orang tua harus memahami pilihan-pilihan makanan yang bergizi baik untuk pertumbuhan anak dan otak. Tidak perlu makanan kemasan atau makanan pabrik, makanan rumahan juga cukup baik.

“Makanan di rumah sudah cukup bagus. Misalnya, telur yang murah meriah dan gampang diperoleh, ikan, sayur-sayuran yang bisa dilunakkan atau dib[1]ender sesuai dengan tingkatan usia anak di bawah 2 tahun,” jelas Iflan.

Namun sambung dia, hal yang lebih penting lagi dalam upaya pencegahan stunting yaitu 1.000 hari pertama kehidupan. Pada masa ini, para calon ibu perlu untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan, asupan, dan berolahraga dengan baik.

“Sehingga sel-sel telur yang dihasilkan oleh ibu dan sel sperma yang dihasilkan oleh calon bapak juga memiliki kualitas yang bagus dan sehat,” terangnya.

Selanjutnya, pada persiapan kehamilan yang juga harus dalam kondisi prima, kesehatan yang bagus, tidak stres, makanan-makanan yang dikonsumsi juga berkualitas tinggi. Makanan-makanan berkualitas tinggi ini tidak berarti harus mahal, bisa juga makanan yang mudah ditemui di sekitar tetapi memiliki kandungan gizi yang cukup baik.

“Di Aceh ini cukup banyak tersedia makanan berkualitas, seperti ikan, telur, kemudian sayur-sayuran. Makanan itu sangat baik sekali daripada kita memilih makanan junk food atau fast food. Makanan jenis itu membuat tubuh mengalami radang berkepanjangan, sehingga sel-sel tidak beregenerasi secara optimal,” jelasnya dokter Iflan.

Kemudian pada saat usia khamilan 3 bulan pertama. Pada masa kehamilan ini dikatakan Iflan, merupakan masa-masa penting perkembangan dari selsel otak saraf janin. Karena itu, penting memeriksakan diri ke bidan atau dokter spesialis kandungannya, agar diberikan asuhan atau pemahaman terhadap pentingnya menjaga kehamilan pada 3 bulan pertama.

“Bisa juga konsultasi ke dokter spesialis gizi, agar bisa diberikan menu atau pilihan-pilihan makanan untuk dikonsumsi sehari-hari yang dapat disesuaikan. Sehingga dengan kualitas kehamilan bagus ini, membuat janin yang lahir itu sehat dan berkembang dengan cepat,” demikian dr Iflan.

Remaja Putri Perlu Mendapatkan Tablet Penambah Darah

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, dr Sulasmi MHSM mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya angka stunting di Aceh. “Ada banyak faktor. Ada faktor langsung dan faktor tidak langsung,” katanya.

Faktor langsung meliputi kurangnya asupan gizi yang optimal, yang dimulai dari masa kandungan hingga usia anak mencapai 2 tahun. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, disamping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Sementara dari sisi faktor tidak langsung, dr Sulasmi menyebut, stunting terjadi karena pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan balita. Dokter Sulasmi juga mengingatkan pentingnya minum tablet penambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil di usia 7,8,9 bulan. Ini merupakan program nasional sebagai upaya untuk mengatasi remaja putri Indonesia mengalami anemia.

“Jika seorang remaja putri menderita anemia dan kemudian hamil, maka akan berpotensi melahirkan bayi dengan tubuh pendek (stunting),” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Aceh telah bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengedukasi dan memberikan tablet penambah darah kepada remaja putri. “Cukup di minum satu tablet setiap minggunya,” pungkas Kabid Kesmas Dinkes Aceh, dr Sulasmi.

Pentingnya Akses Air Bersih

Direktur Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSP USK) Banda Aceh, dr Iflan Nauval M ScIH Sp GK (K), juga menyampaikan tentang perlunya intervensi gizi sensitif yang harus diperhatikan dalam penanganan stunting, termasuk yang paling penting adalah suplai air bersih.

“Ini menjadi tantangan bagi semua pihak bahwa tidak semua masyarakat Aceh mendapatkan akses ke suplai air bersih,” kata dia.

Dokter Iflan Nauval menyebutkan, setelah diteliti intervensi gizi sensitif, suplai air bersih, sanitasi itu memiliki kontribusi 70 persen dalam menanggulangi atau mencegah stunting.

“Kalau dari segi kesehatan, kita memberikan vitamin A, kemudian makanan bergizi, itu kontribusinya sekitar 30 persen,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Iflan menyampaikan, stunting sebenarnya sangat multisektoral, tidak hanya sektor kesehatan, supporting dari yang lain seperti air bersih dan infrastruktur juga memainkan peranan yang sangat penting dalam pencegahan stunting.

Karena itu, masalah stunting ini tidak bisa kemudian ditumpukkan pada sektor kesehatan saja.

“Jadi mudah-mudahan, insya Allah angka stunting di Aceh akan terus menurun seiring dengan perbaikan infrastruktur, perbaikan suplai air bersih. Kemudian kesadaran masyarakat juga semakin bagus terhadap pentingnya pola asuh dan pemilihan makanan yang bergizi dan baik. Mudah-mudahan menjadi generasi Aceh yang unggul,” demikian dr Iflan Nauval.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32