Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap di Aceh Masih Belum Memenuhi Target

Kategori : Berita Kamis, 09 Juni 2022
Print Friendly and PDF
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman sedang memberikan materi kepada awak media pada acara Sosialisasi Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAN) untuk media yang dilaksanakan di Ivory Cafe B. Aceh pada (Rabu, 08/06).
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman sedang memberikan materi kepada awak media pada acara Sosialisasi Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAN) untuk media yang dilaksanakan di Ivory Cafe B. Aceh pada (Rabu, 08/06).

(BANDA ACEH, 09/06) - Tren cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Provinsi Aceh dalam lima tahun terakhir terus mengalami penurunan.

Padahal IDL sendiri wajib bagi anak usia dini atau balita, mengingat daya tahan atau kekebalan anak masih belum kuat dan sebagai imun untuk mencegah penyakit menular.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman mengatakan, dalam kurun lima tahun terakhir grafik cakupan imunisasi dasar lengkap untuk anak Aceh terus mengalami penurunan.

Bagaimana tidak, untuk tahun 2017 tren cakupan IDL Aceh sebesar 59,7 persen, 2018 sebesar 58 persen, 2019 sebesar 48,9 persen, 2020 sebesar 42,7 persen dan 2021 sebesar 38,4 persen.

"Trend cakupan imunisasi dasar lengkap di Aceh terus mengalami penurunan tiap tahunnya," kata Iman pada sesi diskusi Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di Ivory Cafe, Rabu (8/7).

Ia mengatakan, sementara untuk rata-rata nasional cakupan IDL Aceh juga paling rendah berkisar 11,8 persen saja dari target nasional sebesar 54,6 persen.

"Bisa dibilang dari total 6.507 desa di Aceh, untuk cakupan Universal Child Immunization (UCI) hanya 24,9 persen saja yang sudah lengkap imunisasi. Atau tiga perempat diantaranya," ungkap Iman.

Karena hal tersebut, perlu ada kesadaran bersama baik dari masyarakat maupun unsur terkait. Pasalnya dengan imunisasi anak mendapatkan imunitas atau kekebalan anak secara individu dan eradikasi atau pembasmian suatu penyakit dari penduduk suatu daerah atau negeri.

"Vaksin ini sebenarnya bisa dikatakan barang yang tidak langsung nampak efeknya. Dia baru terasa manfaatnya dua atau tiga tahun ke atas setelah di vaksin," pungkasnya.

Hingga Maret Aceh Catat 230 Kasus Campak 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mencatat sudah 230 anak Aceh yang terkena infeksi virus campak hingga Maret 2022.

Campak sendiri merupakan virus serius bagi anak kecil. Penyakit ini, menyebar melalui udara dengan tetesan hasil pernapasan yang dihasilkan dari batuk atau bersin.

Gejala campak tidak muncul hingga 10 sampai 14 hari setelah paparan, diantaranya batuk, pilek, mata meradang, sakit tenggorokan, demam, dan ruam kulit berbercak kemerahan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, Dokter Iman Murahman mengatakan, dari total kasus tersebut, paling banyak ditemukan di Bireuen sebanyak 111 kasus.

"Sementara untuk kasus campak rubella, di Aceh ditemukan baru lima kasus yakni di Pidie Jaya tiga kasus, Bireuen dan Aceh Utara masing-masing satu kasus," kata Iman, Kamis (9/6).

Iman mengatakan, padahal untuk penularan dan pencegahan campak rubella itu dapat dicegah dengan mengikuti imunisasi lengkap anak.

Pasalnya lanjut Iman, anak yang tidak diimunisasi lengkap tak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit-penyakit berbahaya sehingga mudah tertular, menderita sakit berat, serta cacat bahkan meninggal dunia.

"Selain itu, mereka juga dapat menjadi sumber penularan penyakit bagi orang lain. Akumulasi anak yang tidak mendapat imunisasi rutin lengkap mengakibatkan tidak akan terbentuk kekebalan kelompok atau Herd Immunity," pungkasnya.

Jadi, tunggu apa lagi, segera bawa anak anda untuk imunisasi.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32