Jemaah Haji Lansia Diimbau Hindari Aktivitas di Luar Ruangan

Jemaah Haji Lansia saat Pemeriksaan Akhir di Asrama Haji Banda Aceh.
Jemaah Haji Lansia saat Pemeriksaan Akhir di Asrama Haji Banda Aceh.

(JAKARTA) - Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, mengimbau jemaah haji lanjut usia (lansia) untuk menghindari aktivitas di luar ruangan selama di tanah Suci. Menurut Liliek, langkah ini merupakan upaya untuk menjaga kesehatan para jemaah lansia.

“Pemerintah mengimbau kepada para jemaah khususnya para lansia untuk senantiasa tetap menjaga kesehatan dan menghindari aktivitas di luar ruangan, ujar Lilik dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/5/2023.

Liliek mengingatkan bahwa saat Ini kondisi cuaca di Madinah sedang dalam kondisi panas, dengan suhu mencapai sekitar 39 derajat Celcius.

Dirinya meminta agar jemaah lansia tidak memaksakan diri melakukan ibadah Arbain di Masjid Nabawi.

“Bagi jemaah lansia mohon jangan memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah sunnah. Jangan memaksakan diri jika kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk ikut shalat berjamaah di Masjid Nabawi,” jelas Liliek.

Ibadah bagi para lansia, kata Liliek, dapat dilakukan | di dalam pemondokan untuk menghindari kelelahan.

“Jemaah juga bisa menunaikan shalatnya di pemondokan guna menghindari kelelahan,” tambahnya.

Dampak Cuaca Panas Bagi Kesehatan

Saat ini di Arab Saudi saat ini sedang memasuki musim panas dengan suhu di atas 40 derajat Celsius. Meski puncak musim panas jatuh pada Juli-Agustus 2023, namun kondisi Arab Saudi saat ini, khususnya Madinah, terbilang terik.

Kabid Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, M Imran, mengatakan, cuaca panas Arab Saudi karakternya beda dengan Indonesia.

“Di Indonesia paling panas 33-35 derajat celsius dengan kelembaban di atas 60 persen. Sementara di Arab Saudi kelembabannya kering, di bawah 50 persen,” ujar Imran pada Selasa (23/5).

Tingkat kelembaban ini, menurutnya, membuat jamaah haji tidak berkeringat meski panas menyengat. Padahal, keringat itu mekanisme untuk pertahanan tubuh melawan panas, dengan membuat permukaan kulit menjadi lebih dingin.

Dampak cuaca panas ini terhadap kesehatan, sambung Imran ada tiga penyakit yang bisa mengiringi.

Pertama, infeksi saluran pernapasan atau ISPA ditandai dengan batuk.

Kedua, dehidrasi, kondisi ini cukup serius sebab cuaca kering ini membuat orang yang beraktivitas di luar ruangan tidak gampang haus karena lambatnya penguapan.

Ketiga, dan yang paling parah adalah heat stroke. Bila sudah heat stroke penanganannya harus di rumah sakit.

“Di Arab Saudi penguapan lambat jadi tidak gampang haus, Karena itu  jamaah haji harus minum 200 mililiter per jam. Namun tidak diminum sekaligus, melainkan minum 1-2 teguk tiap berapa menit,” ucap dia.

Cara mengurangi dampak negatif musim panas ini, ia menghimbau jamaah untuk menggunakan payung, masker, dan membawa spray air untuk wajah.

Jadi bila panas, tinggal menyemprotkan air ke wajah dan kulit yang terpapar sinar matahari.

Hal ini bisa mengurangi dampak negatif panas. Bila menemukan orang yang kepanasan, bawa orang tersebut ke tempat teduh. Kemudian gunakan sprai berisi air dingin untuk mencegah heat stroke.

“Bawa ke tempat teduh, siram pakai air dingin selama 30 menit,” ungkap Imran.

Bila terjadi kedaruratan, Jamaah haji bisa langsung menghubungi KKIH dengan mengoptimalkan aplikasi tele jamaah, Dalam aplikasi Itu ada kolom panic button yang bisa dimanfaatkan jamaah haji saat membutuhkan pertolongan kesehatan.

👁 723 kali

Berita Terkait