Sering Dianggap Nakal, Anak dengan ADHD Butuh Pendekatan Belajar yang Tepat

Aini Shafra Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe, sedang memberikan pelayanan kepada orang tua dan anak  ADHD, upaya ini untuk menyelaraskan langkah-langkah pendampingan agar stimulasi yang diberikan di Ruang ABK puskesmas dapat dilanjutkan secara konsisten oleh orang tua ADHD di rumah.
Aini Shafra Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe, sedang memberikan pelayanan kepada orang tua dan anak ADHD, upaya ini untuk menyelaraskan langkah-langkah pendampingan agar stimulasi yang diberikan di Ruang ABK puskesmas dapat dilanjutkan secara konsisten oleh orang tua ADHD di rumah.

LHOKSEUMAWE – Sulit duduk diam, mudah terdistraksi, sering menyela pembicaraan, atau tidak menyelesaikan tugas di sekolah kerap membuat anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dicap sebagai anak nakal atau tidak mampu mengikuti pelajaran.

Padahal, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kesulitan dalam mengelola perhatian, impulsivitas, hiperaktivitas, serta fungsi eksekutif yang memengaruhi proses belajar.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Aini Shafra Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Ia menyusun “Modul Pembelajaran Kesulitan Belajar: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)” sebagai bahan pembelajaran bagi psikolog, guru, konselor sekolah, dan terapis anak berkebutuhan khusus (ABK).

Modul yang disusun pada Januari 2026 itu berada dalam bidang kajian Psikologi Pendidikan dan Psikologi Klinis. Tujuannya membekali pengguna dengan pemahaman dan keterampilan untuk mengenali, menilai, serta menangani kesulitan belajar yang berkaitan dengan ADHD.

Aini menjelaskan dalam modulnya bahwa ADHD merupakan gangguan neurobiologis yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus, mengendalikan impuls, dan dalam banyak kasus disertai hiperaktivitas. Kondisi tersebut biasanya muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa.

Dalam konteks pendidikan, anak dengan ADHD dapat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari sulit mempertahankan perhatian, mudah teralihkan, kurang memperhatikan detail, kesulitan mengikuti instruksi, mengatur waktu, hingga menyelesaikan tugas.

Kesulitan tersebut, menurut modul, berkaitan dengan fungsi eksekutif seperti perhatian dan memori kerja, bukan semata-mata karena anak tidak memiliki kemampuan untuk belajar. Anak juga dapat memiliki kondisi lain yang berdampingan, seperti disabilitas belajar spesifik.

Tiga pola gejala ADHD

Modul tersebut menjelaskan tiga pola utama gejala ADHD, yaitu inatensi, hiperaktivitas-impulsivitas, dan tipe kombinasi.

Pada pola inatensi, anak dapat mudah terdistraksi, sulit mempertahankan perhatian, sering kehilangan barang, tidak mendengarkan ketika diajak bicara, serta mengalami kesulitan mengorganisasi tugas.

Sementara pada pola hiperaktivitas-impulsivitas, anak dapat terlihat gelisah, sulit duduk diam, banyak bicara, menyela percakapan, sulit menunggu giliran, atau melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya.

Tipe kombinasi menunjukkan gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas secara bersamaan.

Namun, modul juga menekankan bahwa pengenalan ADHD tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat satu perilaku anak. Kriteria diagnostik yang dicantumkan dalam modul antara lain mempertimbangkan durasi gejala, jumlah gejala sesuai usia, usia saat gejala mulai muncul, kemunculan gejala di lebih dari satu lingkungan, serta dampaknya terhadap fungsi sosial dan pendidikan.

Bukan memaksa anak, tetapi menyesuaikan cara belajar

Salah satu pesan penting dalam modul tersebut adalah perlunya strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Instruksi yang sederhana, langsung, dan spesifik dapat membantu anak memahami apa yang harus dilakukan. Tugas yang besar juga dapat dibagi menjadi beberapa langkah kecil sehingga lebih mudah diselesaikan.

Penggunaan alat bantu visual seperti bagan, kartu, dan pengingat visual juga disarankan untuk membantu mempertahankan perhatian anak. Pendekatan multisensori dapat diterapkan dengan menggabungkan benda konkret, gambar, suara, gerakan, maupun aktivitas langsung dalam proses pembelajaran.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu anak mengatur waktu dan tugas. Modul mencantumkan penggunaan kalender, aplikasi pengingat, alarm, aplikasi daftar tugas, hingga perangkat yang memberikan pengingat sebagai beberapa contoh alat yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, dukungan emosional tidak kalah penting.

Modul mendorong orang dewasa untuk menciptakan rutinitas yang konsisten, menyediakan lingkungan belajar yang minim gangguan, memberikan instruksi yang jelas, serta membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi.

Anak juga perlu mendapatkan apresiasi atas kekuatan yang dimilikinya. Energi, kreativitas, dan kebaikan hati anak merupakan potensi yang dapat dikenali dan dikembangkan.

Guru dan orang tua perlu berjalan bersama

Pendampingan anak dengan ADHD juga tidak berhenti di ruang kelas. Modul menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, orang tua, dan konselor.

Guru dapat membantu dengan memberikan instruksi singkat, membagi tugas menjadi langkah-langkah kecil, menciptakan lingkungan kelas yang minim gangguan, serta memberikan pujian positif ketika anak berhasil.

Di rumah, orang tua dapat membangun rutinitas yang teratur untuk belajar, bermain, dan tidur. Komunikasi dengan guru dan konselor juga diperlukan untuk mengetahui perkembangan dan tantangan yang dihadapi anak.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pengembangan layanan inklusif yang dilakukan Puskesmas Muara Dua, Lhokseumawe.

Aini Shafra Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe.sedang memberi konseling kepada orang tua anak ADHD guna mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak ADHD melalui langkah-langkah belajar yang menyenangkan, terarah, dan sesuai dengan keunikannya.

Layanan Anak Berkebutuhan Khusus di Puskesmas Muara Dua telah dikembangkan untuk memberikan dukungan kepada anak dan keluarga. Dalam pelaksanaannya, layanan mencakup konseling orang tua, terapi, pelacakan ABK, pemantauan ke desa, serta jejaring dengan sekolah luar biasa dan dokter spesialis anak.

Aini merupakan psikolog klinis yang mengampu layanan Anak Berkebutuhan Khusus di puskesmas tersebut. Selain di Puskesmas Muara Dua, ia juga membuka Klinik Aneuk Lon - Developmental Care, sebuah klinik yang fokus pada tumbuh kembang anak, di Kota Lhokseumawe . Pengalamannya dalam pelayanan tersebut menjadi salah satu konteks yang relevan dengan penyusunan modul pembelajaran ADHD.

Jenis ABK yang mendapatkan pelayanan di Puskesmas Muara Dua antara lain anak dengan autisme, ADHD, gangguan perilaku dan emosi, gangguan komunikasi, serta kondisi lainnya. Pendekatan pelayanan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak.

ADHD bukan aib

Pada bagian refleksi, modul tersebut menempatkan perubahan cara pandang sebagai hal penting dalam mendampingi anak dengan ADHD.

ADHD bukan dipandang sebagai aib, tetapi sebagai kondisi yang membutuhkan dukungan, pemahaman, dan lingkungan yang suportif. Orang tua juga didorong untuk mempelajari kondisi anak, berdialog dengan tenaga ahli, dan membangun lingkungan yang aman di rumah maupun sekolah.

Pesan tersebut menjadi penting karena tantangan anak dengan ADHD tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengikuti pelajaran, tetapi juga bagaimana lingkungan memahami perilaku dan kebutuhannya.

Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, dukungan emosional, penguatan positif, serta kerja sama antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan konselor, anak dapat didampingi untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Bagi Aini, penyusunan modul ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mengenai ADHD, khususnya bagi mereka yang berhadapan langsung dengan anak dalam proses pendidikan dan pelayanan.

Sebab, memahami anak bukan hanya tentang melihat apa yang sulit dilakukannya, tetapi juga menemukan cara yang tepat agar kemampuan yang dimilikinya dapat berkembang.

👁 97 kali

Berita Terkait