Menkes Luncurkan Gerakan Anak Sehat, Picu Masyarakat Peduli Stunting

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meluncurkan Gerakan Anak Sehat (GAS) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Utama Jakarta, Selasa (31/10) dengan tujuan memicu gerakan masyarakat untuk turut serta mencegah anak-anak mengalami stunting (gangguan pertumbuhan yang dapat menurunkan kecerdasan).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meluncurkan Gerakan Anak Sehat (GAS) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Utama Jakarta, Selasa (31/10) dengan tujuan memicu gerakan masyarakat untuk turut serta mencegah anak-anak mengalami stunting (gangguan pertumbuhan yang dapat menurunkan kecerdasan).

(JAKARTA) -- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meluncurkan Gerakan Anak Sehat (GAS) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Utama Jakarta, Selasa (31/10) dengan tujuan memicu gerakan masyarakat untuk turut serta mencegah anak-anak mengalami stunting (gangguan pertumbuhan yang dapat menurunkan kecerdasan).

“Gerakan ini bertujuan untuk memicu masyarakat lebih peduli untuk mencegah stunting dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjadi relawan,” kata Menkes.

GAS merupakan inisiatif dan kontribusi nyata dari masyarakat untuk masyarakat. Peran Kementerian Kesehatan adalah memastikan intervensi dan pemantau pertumbuhan.

Pencegahan stunting menjadi salah satu faktor utama agar Indonesia mendapatkan bonus demografi pada 2030. Bonus demografi adalah masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih banyak dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Jika di Indonesia masih banyak stunting, kemungkinan akan gagal mendapatkan bonus demografi karena banyak usia produktif nantinya yang sakit atau mengalami penurunan kecerdasan.

"Kita harus fokus ke sumber daya manusia (SDM). SDM nya mesti produktif. Itu sebabnya dalam tujuh tahun ke depan kita harus pastikan anak-anak kita sehat dan pintar," ujar Menkes.

GAS dicanangkan untuk meningkatkan kolaborasi lintas sektor dan multipihak (lembaga non pemerintah) dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.

Pilot kegiatan dilaksanakan di Provinsi DKI Jakarta dan selanjutnya akan diperluas pada 85 kabupaten/kota di 10 provinsi yang tidak mendapatkan alokasi anggaran DAK Non Fisik 2023 untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal.

GAS mengusung tema 'Bersama Cegah Stunting' dengan upaya utama dilakukan dengan memberikan makan tambahan bagi Balita dengan berat badan yang tidak ada kenaikan pada penimbangan 2 kali berturut-turut (balita T), balita berat badan kurang (underweight) dan balita gizi kurang yang mendapatkan makanan tambahan berbahan pangan lokal yang kaya protein seperti telur, daging dan ikan.

Pencegahan juga dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam praktik pemberian makan bergizi seimbang serta pemantauan tumbuh kembang balita.

GAS tidak bisa dilakukan eksklusif oleh pemerintah, tapi inklusif oleh semua pihak.

Berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam GAS diantaranya dilakukan oleh APINDO di 3 lokasi, yaitu Kota Serang, Kab. Bogor dan Kab. Purbalingga. Kemudian OASE KIM yang telah melaksanakan GAS di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Selanjutnya, Benih Baik bersama PP Aisyiyah, Save The Children, Persagi DKI Jakarta, IAKMI, PP Muhammadiyah, Rumah Sigap Tanoto Foundation dan Fatayat NU yang didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk Implementasi di 8 kecamatan dan 12 kelurahan di DKI Jakarta.

Menkes berharap muncul gerakan yang langsung menyentuh masyarakat dengan intervensi, pencatatan dan pemantauan sesuai dengan kebijakan Kemenkes.

“Melalui BenihBaik kami berharap akan semakin banyak relawan dan donatur yang dapat mendukung pencegahan stunting,” lanjut Menkes.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat dr. Maria Endang Sumiwi, MPH mengatakan Kemenkes sering kali mendapatkan masyarakat yang ingin berkontribusi mengatasi stunting.

"Kami sangat menyambut baik seluruh keinginan-keinginan untuk sama-sama berkontribusi menurunkan stunting. Dari semua yang menghubungi Kemenkes kami mendapati yang ingin berkontribusi banyak dari dunia usaha dan organisasi," ucap Dirjen dr. Maria.

Kemenkes mengapresiasi siapapun yang ingin berkontribusi, termasuk BenihBaik yang akan menjadi wadah jika ada perseorangan yang ingin berkontribusi.

Pendiri BenihBaik Andi F Noya mengatakan GAS adalah gerakan untuk kita semua. Ia menilai awalnya stunting itu belum banyak orang yang tahu dan hari ini kita sudah tahu apa dampaknya.

"Kita beri kesempatan kepada orang perorangan, masyarakat, atau komunitas yang ingin berpartisipasi mengatasi stunting tapi tidak punya kesempatan karena tidak tahu caranya, karena itu BenihBaik adalah sebuah platform digital untuk mempertemukan orang-orang, saudara-saudara kita yang membutuhkan dukungan bertemu dengan orang-orang baik yang punya hati baik," ucap Andi.

👁 1390 kali

Berita Terkait